Posted by : Unknown
Tuesday, 25 November 2014
Prolog
Cukup jarang untuk ada hari cerah selama musim hujan.
Sakamaki Izayoi, sambil meikmati pagi di awal musim panas, melihat ke matahari dan bergumam:
“Oh? Sunspots ? (tl note: Bintik hitam di matahari) Jadi matahari benar - benar memasuki glacial periode?”
Pilosopinya
adalah "Langit tidak menciptakan manusia di atasku" dan tampak lebih
menyukai pemanasan global menjadi pendinginan global.
Karna
Izayoi tidak lagi memiliki kewajiban untuk pergi ke sekolah, dia
bertanya - tanya apakah dia sebaiknya berbaring menghadap sungai sambil
merenung. Tapi di mata orang lain, ini adalah tingkah yang memalukan.
Jika seseorang yang ia kelal melihatnya seperti itu, dia bakalan menjadi
bahan tertawaan.
“Ahhh Aku ingin tahu apakah disana ada sesuatu yang merik…..”
Izayoi
melepaskan headphonesnya dan mendengar sebuah keributan di sisi lain.
Sekumpulan preman, mengenakan mantel panjang dengan kata "Semangat
Bertarung" tertulis padanya, sedang ramai dan di tengah - tengahnya, di
kelilingi si preman adalah seorang pria menangis dan di paksa untuk
membungkuk minta maaf.
“Oii Oii, ini tidak bagus. Anak ini benar - benar menangis! Kenapa tidak kita lempar dia kesungai untuk membasuhnya?”
“Heh, Karna kita akan membasuhnya, kalau gitu pertama kita telanjangi dulu dia!”
“Eeeeekkk……………!”
Si
pria itu gemetaran dengan begitu ketakutan hingga dia meringkuk seperti
bola. Lalu Sakamaki Izayoi perlahan berdiri dan mengarahkan
pandangannya pada gerombolan preman itu yang sekarang sedang menendangi
dan memukuli si pria.
“Ahhh…bosan…Aku
BEGITU BOSAN SAMPAI - SAMPAI INGIN MELEDAK! JIKA AKU BISA MENJUAL
KEBOSANANKU! AKU BISA KAYA! HEY ORANG YANG GAK PUNYA OTAK DISANA!
BAGAIMANA KALAU KAMU MEMBERIKU SEDIKIT HIBURAN DAN AKU AKAN MEMBERIMU
PERJALANAN MENUJU RUMAH SAKIT SEBAGAI HADIAH!? BAGAIMANA?”
“Oi! Telanjangi lebih cepat dan lempar ke sungai oke?!”
“Ikat juga tangannya! Selama dia bisa menggerakan kakinya, dia tidak akan tenggelam!”
Itu
seperti yang di harapkan bahwa tak satupun dari preman akan merespon
balik ke Izayoi karna yang belakangan itu bukanlah teriakan dan itu
hanya di ekspresikan dengan volume yang hanya bisa didengar oleh
seseorang yang berada di dekatnya.
Jadi
sudah jelas, tak satupun dari kata - kata Izayoi yang terdengar dan
apapun yang di katakan Izayoi hanya dikirim langsung ke aingin.
Sekarang, si pria itu babak belur dan wajahnya di penuhi lumpur, air
mata dan ingis. Sangat tidak pantas untuk dilihat.
“…………..”
Izayoi diam - diam berdidri
Dia mengambil dua atau tiga batu di dekatnya dan melemparkannya sambil berteriak.
“BIARKAN GUA IKUTAN GUYSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSS!!!!!”
Seluruh daratan meledak saat batu menyentuh tanah. Ini bukannlah kiasan, tak ada yang pelu dibenarkan.
Tepat
seperti yang di jelaskan, batu itu terbang dengan kecepatan yang gila ,
dan dengan gemuruh yang keras dan awan debu menghembuskan para pereman,
si pria dan sisi sungan secara serupa.
“Waaaaaaa!!!”
“I-ini….Sakamaki Izayoi! Kabur semuanya!”
“Tolng…Tolong...aku….”
“Hey! Aku akan melemparkan yang lainnya!”
Sambil
Izayoi tersenyum menyegarkan, setiap kali dia melemparkan batu lainnya,
itu menciptakan kawah kecil. Pemandangannya akan sama seperti semacam
airdrop. Berhadapan dengan lawan seperti itu, yang ngebully dan yang
dibully keduanya kabur ketakutan.
Untuk menghindari kebingungan, Izayoi tidak melakukan ini untuk menolong yang dibully.
Itu karena pilosopinya Izayoi adalah “Untuk menekan dan mengontrol yang lemah dan yang kuat.”
“Ahahahahahaha! Menyedihkan! Benar - benar menyedihkan! Kalian cuma bisa menggonggong tapi tak bisa menggigit!”
Sakamaki
Izayoi memeluk perutnya dan tertawa pada orang - orang yang berlalri
ketakutan darinya. Dia tertawa sambil guling - guling atuu meninju -
ninju tanah.
Segera, area itu hanya di penuhi oleh tawa Izayoi dan sekali Izayoi berhenti, area itu langsung hening.
Segera,
hening menyelimuti sungai dan tak ada pergerakan manusa sama sekali.
Sekarang, gadis - gadis seusia Izayoi pasti sedang istirahat makan siang
sedangkan Izayoi bediri disana, hening.
“…..Ini benar - benar membosankan!”
Akhirnya, mengutarakan perasaannya yang sesungguhnya.
Bahkan meskipun reaksi dari para preman dan orang yang di bully itu menggelikan, tapi itu tidak begitu menarik.
".....Hm?"
Woosh.
Pada waktu yang sama dia mulai bergerak, sebuah angin kuat menghembus.
Sebuah surat tersegel terapung - apung oleh angin, dan setelah mengikuti
lintasan yang sangat tak biasa, surat itu mengirimkan dirinya sendiri
langsung ke tas milik Izayoi layaknya benang melintasi lubang jarum.
"....Apa ini?"
Dia mengambil surat misterius itu.
Nama si penerima di tulis di amplop dengan rapi: "Untuk Sakamaki Izayoi-dono"
__________________________________________________________________________________
Melihat ke sekeliling, tak ada seorang pun disana.
“Luar bisa. Apakah itu membuat dia seorang post shoot expert?”
Izayoi tersenyum dan memutuskan untuk membuka isi surat itu.
Tapi pada saat itu, HP milik Izayoi berbunyi dan ia menaruh surat itu di tasnya dan mengechek HPnya.
[Yaho~ Iza-niichan, bolos sekolah lagi? setiknya panggilah Canaria Family Home, semua guru sangat marah loh.]
[Benarkah? Maaf tentang itu. Mungkin di waktu berikutnya, mereka akan mengeluarkan ku dari sekolah.]
[Apa itu gak apa - apa?]
[Ah. Golden Canary sudah mati. Jadi aku tak punya alasan untuk pergi sekolah lagi.]</nowiki>
[Astaga. Well, mau bagaimana lagi. Meskipun jika Iza-niichan pergi ke sekolah dengan rela, itu akan mengejutkan.]
“Oh benarkah?” Izayoi tertawa.
[Ah,
yeah, sebenarnya, seseorang yang berpakaian seperti pengacara datang ke
Canaria Family Home. Bahkan ngasih Iza-niichan wasitnya Golden Canary.]
“Wasiat? Wasiat terakhir Golden Canary?”
Izayoi mengerutkan keningnya. Despite living all the way to her deathbed, Izayoi tidak pernah mendengar wasit terakhir.
[Aku
juga menemukan itu anes, tapi tanda tangannya beneran dari Golden
Canary-sensei! Dan si pengacara bilang kalau dia harus menyerahkan itu
ke Iza-niichan. Jadi mau pulang ke Canaria Family Home bareng?]
“Hmmm…nah, Aku kira kita akan melihatnya. Dan beri tahu Homura kalau headset itu baik - baik saja.”
Pi---panggilan berakhir.
Izayoi membentangkan dirinya sambil menatap ke arah langit mendung.
---Mulai
besok adalah Golden Week. Karna tak ada alasan untuk tinggal di
sekolah, tak ada hari libur berturut-turut. Dari perspektif, ini adalah
salah satu kebiasaan santai orang Jepang.
--
Maju ke Bab 1
Navigation